Ketidaktahuan dan ketiadaan. Annar Fatwajaya sekaligus orang-orang didalamnya adalah pencari dari pada apa yang mengganggu pikirannya. Terbatas jawaban-jawaban yang dimiliki, melebur dalam penyatuan, melebur dalam jiwa, sampai hingga tak ada lagi kata, kalimat, maupun bahasa. Ada suatu anggapan yang menyatakan bahwa Allah memiliki bentuk yang dapat dipersepsikan oleh seorang hamba-Nya. Sebuah kesaksian akan kehilangan makna jika tidak disertai oleh pengalaman yang nyata. Pernyataan ini menyatakan bahwa kalimat tauhid dan takbir yang diucapkan hanya sekedar kata-kata yang tidak sampai kepada Tuhan. Ibadah yang dipraktikkan hanyalah ibadah yang tidak benar karena kurangnya pengetahuan. Semua pengetahuan yang dipelajari hanya merupakan pengetahuan dasar. Semua tindakan hanya akan menyebabkan kehilangan yang akan menyiksa jiwa. Hanya kerakusan yang menjadi tujuan utama yang ingin dicapai pada akhirnya. Jangan sampai gila, tetapi gilalah untuk kegilaan-Nya. "AKU-lah rahasia dibalik diri sejati setiap insan". "Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan Roh-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya." QS. Shad: 72.